UGM Dikenal Kampus Kerakyatan, 7 Fakta ini Buktinya!

UGM (Universitas Gadjah Mada)


FaktaKampus.Com- Universitas Gadjah Mada atau biasa disingkat UGM adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang sangat terkenal di Indonesia. Berdasarkan klasterisasi yang dilakukan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu, UGM masuk ke dalam klaster 1 atau klaster tertinggi. Sementara itu, berdasarkan pemeringkatan perguruan tinggi yang dilakukan Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking, pada tahun 2017 ini UGM berhasil menduduki peringkat 402 dunia. Maka dari itu, tidak mengherankan bila tiap tahunnya puluhan ribu calon mahasiswa baru bersaing untuk dapat berkuliah di universitas ini. 
Baca Juga: 6+ TIPS Lolos Tanpa Bimbel di Fakultas Kedokteran UGM

Selama ini, Universitas Gadjah Mada dikenal sebagai gudangnya calon menantu idaman, hal ini karena mahasiswa UGM dianggap sebagai pemuda-pemudi terpilih dan memiliki prospek kedepan yang menjanjikan. Di kota Jogja sendiri, banyak orang menyebut UGM sebagai “Universitas Gedung Manten” karena gedung-gedung yang ada di UGM hampir setiap akhir pekan digunakan untuk acara pernikahan. Akan tetapi, ada satu label yang selalu dibanggakan oleh UGM, dimana universitas ini sering menyebut dirinya sebagai kampus kerakyatan, kampus perjuangan, ataupun kampus nasional. 

Tentu kebanyakan dari kalian bertanya-tanya dimana sih letak kerakyatannya. Apakah itu hanya sekedar slogan saja untuk kepentingan iklan atau benar-benar diimplementasikan oleh UGM? 7 fakta berikut ini akan memberikan bukti dan gambaran yang jelas bagi kalian yang masih penasaran dengan label kampus kerakyatan tersebut.
 

Fakta-Fakta UGM Dikenal Sebagai Kampus Kerakyatan


Berikut ini adalah fakta-fakatnya;

Pendirian UGM sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Kolonialisme
 
Berdasarkan sejarahnya, Universitas Gadjah Mada didirikan oleh para pejuang dan tokoh pendiri bangsa dalam rangka mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia dari tangan kolonialisme. Tujuan pendirian UGM tidak semata-semata untuk pendidikan saja, melainkan sebagai simbol kebangkitan pendidikan nasional.

Para pejuang dan pendiri bangsa yakin bahwa lahirnya UGM merupakan langkah awal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu, banyak pahlawan bangsa yang berusaha keras untuk mewujudkan UGM ini. Bahkan, saat itu Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9 bersedia menyediakan ruangan keratonnya untuk proses belajar-mengajar yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya UGM. Tentu ini menjadi bukti bahwa sejak awal pendiriannya, UGM sudah berpihak pada rakyat Indonesia.
 
UGM adalah Universitas Nasional Pertama yang Didirikan setelah Indonesia Merdeka
 
Secara resmi, UGM lahir pada tanggal 19 Desember 1949 di kota Yogyakarta. Saat itu, yang meresmikan adalah pesiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Pada awal pendiriannya, UGM hanya memiliki 6 Fakultas, yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Hukum, serta Fakultas Sastra dan Filsafat. Sebagai tambahan informasi, rektor pertama yang menjabat di UGM adalah Prof. Dr. M. Sardjito. Nah, tahun kelahiran UGM yang berdekatan dengan hari kemerdekaan Indonesia menjadi bukti bahwa UGM memang didirikan untuk memperjuangkan bangsa ini.

Terlebih lagi, UGM adalah universitas nasional pertama yang didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka. Maka dari itu, dalam prosesnya hingga menjadi terkenal seperti saat ini, UGM selalu ingat akan tujuan awal pendiriannya dan selalu mengutamakan keterlibatan rakyat Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
 
Mahasiswa UGM Wajib Mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN)
 
Salah satu wujud implementasi keberpihakan kepada masyarakat kecil yang saat ini dilakukan oleh UGM adalah dengan melaksanakan program KKN. UGM menerapkan kebijakan yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk mengikuti program ini pada pertengahan semester 6 dan semester 7. 

Mahasiswa UGM diajak untuk dapat mengabdi di pelosok-pelosok negeri dan melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam kurun waktu 2 bulan. Pada dasarnya, tujuan dari program KKN ini adalah untuk menyadarkan mahasiswa agar selalu berpihak kepada kepentingan masyarakat dan negara sekaligus cara UGM untuk dapat memberdayakan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia.
 
Kekhasan Corak Warna Karung Goni pada Jas Almamater UGM
 
Sumber Gambar: ugm.ac.id
Ada sesuatu yang unik pada jas almamater UGM. Apabila kebanyakan universitas di Indonesia memilih warna biru, merah, kuning atau hijau pada jas almamaternya, hal itu tidak berlaku pada warna jas almamater UGM. 

Sekilas, orang beranggapan bahwa warnanya adalah coklat atau abu-abu, tetapi sebenarnya bukan kedua warna tersebut, hanya mendekati saja. Dibalik warnanya yang kurang jelas, ada makna tersendiri lho di jas almamater tersebut. Warna jas almamater ini terinspirasi dari warna karung goni, yang menjadi penanda dan pengingat bahwa UGM adalah kampus kerakyatan yang didirikan oleh pejuang-pejuang bangsa. Simbol kesederhanaan dan perjuangan ada pada warna jas almamater UGM ini.
 
Kawasan UGM yang Bersifat Inklusif Bagi Semua Orang
 
UGM dibangun diatas tanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9, tepatnya ada di sekitar kawasan Bulaksumur. Lokasi pendirian UGM ini sangat strategis karena berada di dekat pusat kota dan membelah jalan raya besar yang bernama Jalan Kaliurang. Karena letaknya yang strategis tersebut, banyak anak muda, orang tua bahkan anak-anak SMA dan SMP yang melakukan berbagaikegiatan di kawasan UGM, terutama di sekitar gedung Graha Sabha Pramana atau di daerah lembah UGM. Pihak universitas sendiri tidak melarang masyarakat umum untuk beraktivitas di kawasan UGM, bahkan tidak ada biaya yang dipungut oleh UGM, baik itu biaya masuk maupun biaya parkir. Kebijakan ini diterapkan UGM untuk memfasilitasi semua masyarakat dari berbagai kalangan, karena pada dasarnya UGM adalah milik semua rakyat dan bangsa Indonesia.
 
Komitmen Sebagai Kampus Kerakyatan di dalamVisi, Misi, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi UGM
 
Sebagai upaya untuk terus mengingat tujuan pendirian dan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas, UGM memasukkan unsur keberpihakan pada rakyat Indonesia dalam menetapkanvisi dan misi universitas.

Visi yang dipegang oleh UGM adalah menjadi universitas riset kelas dunia yang unggul, mandiri, bermartabat, dan dengan dijiwai Pancasila mengabdi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa. Sementara itu, salah satu misi khusus yang ditetapkan UGM yaitu meningkatkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berkelas dunia, beridentitas kerakyatan serta membangun sosio-budaya Indonesia. Dari visi misi tersebut, dengan jelas tergambar bahwa universitas ini ingin menegaskan jati dirinya sebagai kampus kerakyatan yang akan terus mengabdi pada rakyat dan bangsa Indonesia. Selain itu, kegiatan yang diselenggarakan oleh UGM dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya isinya adalah pengabdian kepada masyarakat. 

Keberagaman dan Kemajemukan yang Terjalin Di UGM
 
Fakta terakhir yang menjadi bukti bahwa UGM merupakan universitas nasional dan universitas kerakyatan adalah keberagaman yang terjadi dan timbul di lingkungan universitas UGM. Ketika masa penerimaan mahasiswa baru, UGM tidak hanya menyeleksi calon mahasiswa tertentu saja, melainkan menerima anak-anak Indonesia dari berbagai daerah, agama, suku, ras dan latar belakang yang berbeda-beda. Perlu diingat disini bahwa keberagaman bukan berarti harus seimbang, dan UGM sendiri sudah bisa dikatakan sebagai representasi dari kemajemukan yang ada di Indonesia.
 
Nah, bukti bahwa UGM menerima mahasiswa-mahasiswi baru dari berbagai latar belakang ditandai dengan adanya program beasiswa bidikmisi. Beasiswa ini diselenggarakan untuk memfasilitasi anak-anak Indonesia yang memiliki potensi yang besar namun kekurangan dari segi pendanaan. Keberagaman yang terjalin di UGM telah membuktikan bahwa UGM dapat menjaga dan mengemban nilai-nilai Pancasila yang melandasi berjalannya negara ini.

Itulah fakta-fakta yang menjadi bukti bahwa label kampus kerakyatan bagi UGM bukan hanya sekedar ucapan belaka, melainkan benar-benar diresapi oleh seluruh civitas UGM dan menjadi pondasi dalam mengembangkan pendidikan di kampus yang terletak di Yogyakarta ini.

Nah, buat kalian yang ingin berproses, belajar dan bertemu dengan berbagai teman dari penjuru negeri, ingin dianggap sebagai menantu idaman, dan tentunya dapat mengabdi pada bangsa dan negara, jangan ragu-ragu untuk mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di universitas nomor 1 se-Indonesia ini. Kota Pelajar yang ramah ini sudah siap kok menyambut ribuan anak-anak muda terpilih yang siap berkontribusi untuk mengabdi dan membangun negeri ini. Penulis dalam artikel ini adalah Belfast Panindya. Semoga bermanfaat, jangan lupa tulisan lainnya;

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "UGM Dikenal Kampus Kerakyatan, 7 Fakta ini Buktinya!"